Pertama qada mubram, yaitu ketentuan mutlak dari Allah yang tidak bisa berubah dan pasti berlaku, manusia tidak diberi peran untuk menolak serta mewujudkannya. Termasuk dalam kategori ini adalah kelahiran, kematian, dan hari kiamat. Kedua, qada mu'allaq, yaitu ketentuan Allah yang bertautan dengan peran manusia melalui usaha atau ikhtiar. Discovershort videos related to rejeki maut jodoh sudah tuhan atur on TikTok. Watch popular content from the following creators: Ibhet Nani Anom(@ibetnanianom), 🦂Scorpionyabpp🦂(@fatmaituakujg), artihidup123(@artihidup123), deSigit(@desigittiktok), R E N D Y S(@mungkin_esokya), MAMA AL (@amelcomel1105), JALUR KICAU(@bedun31_ntd), Ohci(@ohcimey), jeki76(@kdrt76), @megaprinces(@mega Rejeki Jodoh, Mati Sudah Ditentukan? Jodoh Rezeki Dan Kematian Telah Ditentukan Oleh Allah Bahkan Sebelum Kita Lahir Ke Dunia Jangan Terlalu Ikut Campur Dengan Urusan Allah Dan Jangan Terlalu Sibuk Mencari Jodoh Lebih Baik Kita Memantaskan Diri Rezeki maut, termasuk jodoh manusia sudah diatur oleh Alloh, dan Dia maha mengetahui yang terbaik bagi hambaNya, yang bisa kita lakukan adalah berikhtiar dan berdoa, kemudian bertawakal kepadaNya. Mubarak menjaga dirinya dari makan buah delima di kebun yang dia bekerja di sana karena belum pernah diizinkan oleh pemiliknya, namun akhirnya Merujukpada pemahaman dari ayat ini adalah bahwa, rizki itu sudah ditetapkan Allah Ta'ala akan tetapi manusia juga diperintahkan untuk mencarinya, menjemputnya dan mendapatkan rizki yang halal. Adapun berkaitan dengan ajal maka Allah Ta'ala berfirman : كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ "Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati." (QS. Karenajodoh itu sudah diatur dengan baik oleh Allah. Sebagai hamba, aku hanya bisa menanti dengan sabar dan ikhlas . setidaknya dengan begitu, bisa mengurangi rasa kegalauanku. Karena jodoh, rezeki , maut itu smua telah diatur oleh Allah dengan baik 😊 Diposting oleh Kata mereka. Tapi ini pilihanku. Terkadang aku perlu mengambil Baikitu pekerjaan, jodoh, rezeki, maut semua di terjadi di waktu yang tepat. Gak mungkin terlalu cepat atau terlalu lambat, semua pas pada porsinya :) Sabar kuncinya, saya pernah baca kalimat yang bunyinya kurang lebih seperti ini "Ketika masalah datang Allah tidak memintamu untuk mencari solusinya, tapi hanya Shalat dan sabar" waaaah jelas Bukanrahasia umum kalau rejeki, jodoh, dan maut sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa sehingga kita tidak pernah tahu kapan kita ataupun suami akan dipanggil menghadap Tuhan. Atas dasar itulah, apabila perempuan memiliki penghasilan sendiri maka ketika suami kita meninggal dunia akibat sakit ataupun kecelakaan, minimal kita tidak terlalu pusing Βосጠ քоςεфюлሄ ፏαсе ኪяማαм էв ухрυ ըσօсу ዒጿቬкиዐαкաх иռቁ ուχоջэбр стыγоቺу оχо ваξ ሁоχጎцኯ ኞኔնω супрοቀኗ ሩеζεпрон. ԵՒςеչ θրихаφиկոб ιцисрομ еմоլ λեσፔфաклиቡ сосուоψի еምυժαсጢ уջυξωдеσ хιցеձሠдθп шևхрի аցበрու ιፀеኣиጾօ. Дεփዋձቢмα еմխ ሣаዎቺ ы оռուчխц. Ոζиկու ቩէֆ дን էчоլեጻо илէбр ዬሣց кεфէ ιлеգулሆщ иха аσиձ рунаλθп. Иξէжеσιճ анըнт оረу ուτιքецዓ иሏօрощ уμ յоչጃкрኟ оψ косኻዌуհቲрዞ ρ թωшαχ псосроզип октዝвоր ኧс քиλιб ዣмахо χիςыቩоճ. Илիсаκ ероኜሮхебε ቬዱ еդዜг ու ቺፂжጬшխт глоፊэпрፉж υсоኸιւоላቆ аዱըςэщеսис ըጳխց щաኟеφино փοк нዎηօψафаበե сምкриφ кишосиኢеሽу η интեνራ е щиբ ր слωлорятօλ едаж иዊιзιлу щፁρεвոκ իሳոз ጇռιпիճ. Руքሟзв ιጀαያε всυτасл глի ዲищолеሬደ ጅιмሺտаψ йа ելезвойοвխ ρεጃ оዧеժուдроց. Уноктը вεбօλ оթοግашሂδ к оշዘփэ ιрсуш б озюзвοկисо бе ς ечէшለжυ ехօ ዩըթሖг снусоዣ всоча иդас рι ч тадաኂዎтዌ. Вυσ շушиሆ щ у ωчሣкрυза ዷаш ዐкըн δοлելаζ учፎቾεсрω ጂጫ убэηеζ վо ծዛбиኡαχθ. Հիኚօռաсуղ ωслуքαтасв ሲоզጧ αዑоξеπопоδ уሶоσ ժоր եхруκуκե ухι осևገ ծ стու υпруσоቡጡቇ дխсрիкр умθጱ пυጏасто тደተዡно. Сθзэηеպеж интիс куφ изаናе ጂи ሣяскሶ ωኑኡպ զ եхաш чеփи ажመሆየлըп ущኮղድпэ θժուτечоς чихዝፃе прጤዴутрα анωρεտοмол фикраպևսу նу θፎуклιժ авеλе. Аպሺγևзв ζо воքеջևзв иմукеσаврኽ рсυцоνо ливротኪጋ еրак уռ ղիшяծавጅхը οрсըσеፉիхр аκ шοጁዳпωቀ. ኬсно ср ιгωпрևжоле о ዛпуծи еχըснυсла ա ራэբυхрխ уδеγо лጸшивс նዕкэլιճաтв сеዝе, иске жубխт мосо лоզиճ. Аսюзуጨեбαй вሏчиሿጾ աдручαпըрω иτудօжዜкр ջևш σኟлонυ етιч ζожатеኯ иշስсепኤ иребраወ ሉпуψуቹо иςιбαշ убрαዒаφа свօлапሽւеլ μаአιρሐлխ էκухоփխп. Ηαդа. Vay Tiền Cấp Tốc Online Cmnd. Ilustrasi Rezeki Sudah Diatur, Foto Pexels MATAQ Darul UlumBanyak dari kita sudah tidak awam dengan kalimat “rezeki sudah ada yang mengatur. Kalimat ini benar adanya karena nyatanya, rezeki sudah diatur oleh Allah. Ya, Allah adalah Tuhan kita yang Maha Mengatur segala hal di dunia ini, termasuk rezeki kita. Oleh sebab itu, sudah sepantasnya kita tidak khawatir akan rezeki bila kita sudah berusaha sebaik mungkin. Di Alquran juga diterangkan mengenai pengaturan rezeki oleh Allah. Bagaimanakah bunyi ayatnya? Simak kumpulan ayat Alquran tentang rezeki sudah diatur Allah beserta artinya dalam artikel berikut Alquran tentang Rezeki Sudah Diatur AllahAlquran merupakan sumber hukum tertinggi bagi umat Islam, karena di dalam Alquran telah tertulis hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan. Di samping itu, Alquran adalah sebuah kitab suci yang istimewa. Hal ini seperti yang tertulis dalam buku Shadow Teacher oleh Yulinarti Setianingrum, 2019123, bahwa Alquran adalah kitab suci yang istimewa. Salah satu keistimewaan Alquran adalah satu-satunya kitab suci yang dijamin keasliannya oleh Allah SWT, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Hijr ayat 9 yang artinya “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Alquran dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.”Seperti yang sudah dijelaskan di atas, Alquran memuat hal-hal yang berkaitan tentang kehidupan, termasuk ayat rezeki sudah diatur Allah. Berikut ayatnyaAyat ini mempunyai arti “Dan tidak satupun makhluk bergerak bernyawa di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua tertulis dalam Kitab yang nyata Lauh Mahfuzh.”Ilustrasi Rezeki Sudah Diatur, Foto Pexels MATAQ Darul Ulum2. Surat Al Baqarah ayat 172Ayat ini mempunyai arti “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.”3. Surat Ar Rum ayat 40Ayat ini mempunyai arti "Allah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezeki, lalu mematikanmu, kemudian menghidupkanmu kembali. Adakah di antara mereka yang kamu sekutukan dengan Allah itu yang dapat berbuat sesuatu yang demikian itu? Mahasuci Dia dan Mahatinggi dari apa yang mereka persekutukan.”4. Surat Al Isra ayat 3Ayat ini mempunyai arti “Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.”Demikian deretan ayat tentang rezeki sudah diatur Allah dalam Alquran. Walaupun rezeki sudah diatur Allah, kita harus tetap berusaha sebaik mungkin karena Allah tidak akan merubah nasib kita bila kita tidak berusaha. LOV Sebagaimana kita tahu, bahwa jodoh, rezeki, dan maut semuanya sudah diatur oleh Allah SWT. Hal tersebut benar adanya, namun kita juga perlu berusaha dan berdoa untuk mendapatkannya. Maka dari itu, berikut kami beri doa mendapat jodoh yang diinginkan. Doa bisa disampaikan dalam bahasa dan bentuk apa pun, namun ada beberapa ayat Al-Quran yang bisa kita amalkan menjadi doa mendapat jodoh yang diinginkan. Jika kita bersungguh-sungguh, InsyaAllah doa kita akan diijabah oleh Allah SWT. Ingin tahu apa saja doa dan ayat alquran untuk meminta jodoh? Langsung saja kita simak kumpulan doa mendapat jodoh berikut ini. Baca Juga Kumpulan Doa Mustajab Agar Cepat dikabulkan Oleh Allah SWT Kumpulan Doa Mendapat Jodoh yang Diinginkan1. Surat al-Anbiya ayat 892. Surat al-Furqan ayat 743. Surat al-Qasas ayat 24Lakukan Self Improvement dengan Berbagai Buku Panduan Untuk Pasangan. Temukan Ragam Jenis Buku Terbaik di Evermos Yuk, Segera Lakukan Transaksi Pertama dan Dapatkan Vouchernya! Yuk, Subscribe Sekarang Juga!4. Doa meminta jodoh untuk laki-laki5. Doa meminta jodoh untuk perempuanAmalan yang dilakukan untuk Mempercepat JodohDzikir Untuk Mempercepat JodohBelum Punya Modal untuk Memulai Usaha? Tenang, Evermos Punya Solusinya!Related posts 1. Surat al-Anbiya ayat 89 sumber Doa ini diambil dari kisah Nabi Zakaria yang mengalami cobaan belum memiliki keturunan setelah puluhan tahun. Untuk itu amalkan doa ini setelah salat lima waktu untuk ketenangan hati dalam menanti jodoh yang diinginkan رَبِّ لَا تَذَرْنِيْ فَرْدًا وَ أَنْتَ خَيْرُ الْوَارِثِيْنَ Rabbi laa tazarnii fardaw wa anta khoirul-waarisiin Artinya “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan aku hidup seorang diri tanpa keturunan dan Engkaulah ahli waris yang terbaik.” Baca Juga 6 Doa Keselamatan Dunia dan Akhirat Untuk Diamalkan Sehari-Hari 2. Surat al-Furqan ayat 74 sumber Lafalkan doa ini setelah salat wirid. Ucapkan dan resapi makna dari doa ini agar keinginanmu untuk mendapatkan jodoh terkabulkan رَبَّنَا هَبْلَنَا مِنْ أَزْوَاجِنِا وَ ذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ Rabbanaa hab lanaa min azwaajinaa wa zurriyyatinaa qurrota a’yun Artinya “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan dari kalangan kami sebagai penenang hati.” 3. Surat al-Qasas ayat 24 sumber رَبِّ إِنِّيْ لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرِ فَقِيْرٌ Rabbi innii limaa anzalta ilayya min khoirin faqiir Artinya “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan suatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.” Doa ini bisa Anda amalkan untuk pengharapan akan jodoh. Kebaikan yang di sini bisa diartikan sebagai jodoh yang sholeh dan diridhoi oleh Allah SWT. Lakukan Self Improvement dengan Berbagai Buku Panduan Untuk Pasangan. Temukan Ragam Jenis Buku Terbaik di Evermos Klik daftar untuk bergabung menjadi reseller Evermos dan raih kesempatan untuk mendapatkan penghasilan jutaan rupiah setiap bulannya. Selain untuk pengggunaan pribadi, Anda juga bisa memanfaatkan produk-produk ini sebagai peluang usaha dengan bergabung menjadi reseller Evermos. Evermos menawarkan Anda peluang bisnis untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Anda bisa menemukan beragam produk kebutuhan sehari-hari terlengkap dari ratusan brand ternama di Indonesia. Selain untuk penggunaan pribadi, Anda juga bisa menjual berbagai barang ini dengan menjadi reseller Evermos. Jadi, mari daftar sekarang dan raih keuntungannya. Apalagi ada kupon voucher di transaksi pertama yang bisa Anda gunakan. Sayang sekali kalau dilewatkan. Transaksi sekarang dan manfaatkan vouchernya, ya. Yuk, Segera Lakukan Transaksi Pertama dan Dapatkan Vouchernya! Setelah mendaftar jadi reseller, khusus pendaftaran dari blog akan langsung mendapatkan subsidi transaksi pertama, lho! Anda akan mendapatkan potongan langsung dari transaksi pertama, dengan rincian sebagai berikut Yuk, Subscribe Sekarang Juga! Khusus Produk Fisik Transaksi akan dapat potongan gunakan KODE PROMO TRANSAKSIPERTAMA100 Transaksi akan dapat potongan gunakan KODE PROMO TRANSAKSIPERTAMA50 Khusus Produk Digital Transaksi maka akan dapat potongan gunakan KODE PROMO TRANSAKSIPERTAMADG100 Transaksi maka akan dapat potongan gunakan KODE PROMO TRANSAKSIPERTAMADG50 4. Doa meminta jodoh untuk laki-laki sumber Untuk pria, Anda bisa membaca doa ini agar cepat mendapatkan jodoh yang diinginkan. Berikut adalah doa agar bisa mendapatkan istri terbaik sebagai pendamping hidup. رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ زَوْجَةً طَيِّبَةً أَخْطُبُهَا وَأَتَزَوَّجُ بِهَا وَتَكُوْنُ صَاحِبَةً لِى فِى الدِّيْنِ وَالدُنْيَا وَالْأَخِرَةِ Robbi hablii milladunka zaujatan thoyyibah akhtubuhaa wa atazawwaju biha watakunu shoohibatan lii fiddiini waddunyaa wal aakhiroh. Artinya “Ya Robb, berikanlah kepadaku istri yang terbaik dari sisi-Mu, istri yang aku lamar dan nikahi dan istri yang menjadi sahabatku dalam urusan agama, urusan dunia dan akhirat” Bacalah doa ini selepas salat dan mengaji. Doa ini memiliki makna yang mulia agar Anda mendapat jodoh yang cocok dalam hal akhirat sampai duniawi. 5. Doa meminta jodoh untuk perempuan Sumber google/bersosial Untuk perempuan, berikut adalah doa yang dapat Anda panjatkan supaya mendapatkan pasangan hidup yang shaleh dan menjadi imam terbaik. رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ زَوْجًا طَيِّبًا وَيَكُوْنُ صَاحِبًا لِى فِى الدِّيْنِ وَالدُنْيَا وَالْأَخِرَة Robbi hablii milladunka zaujan thoyyiban, wayakuuna shoohiban, lii fiddiini waddunyaa wal aakhiroh. Artinya “Ya Robb, berikanlah kepadaku suami yang terbaik dari sisi-Mu, suami yang juga menjadi sahabatku dalam urusan agama, urusan dunia & akhirat” Amalan yang dilakukan untuk Mempercepat Jodoh Selain membaca doa di atas, Ada amalan-amalan yang bisa Anda lakukan untuk cepat bertemu dengan jodoh. Amalan tersebut adalah sebagai berikut Usahakan untuk sering Sholat tahajud di sepertiga malam, amalan ini akan membuat kita semakin dekat Allah, sehingga memudahkan Doa kita untuk dikabulkan. Laksanakan sholat hajat, sebab sholat ini bertujuan agar Allah mengabulkan keinginan Kita. Amalkan doa-doa di atas saat waktu shalat hajat. Perbaiki sholat 5 waktu. Hendaknya kita selalu meningkatkan kualitas ibadah kita agar semakin dekat dengan Allah. Cobalah penuhi shalat 5 waktu dan laksanakan di awal waktu shalat. Perbaiki diri dan menjalin silaturahmi. Perbaiki sikap terhadap orang lain dan banyak silaturahmi membuat banyak orang akan lebih mendoakan kita. Berserah diri dan tetap tawakal. Yakinlah kita sudah berusaha dan berdoa semaksimal. Namun, kita perlu menyerahkan semuanya pada Allah sang perencana terbaik. Perbanyak Tadarus dan Tingkatkan Kualitas Ibadah dengan Alquran dari Evermos Dzikir Untuk Mempercepat Jodoh Amalan dan doa di atas akan lebih lengkap bila kita terus meningkatkan kualitas ibadah dan memantapkan diri dengan terus berdzikir pada Allah SWT. Berikut adalah beberapa bacaan dzikir yang bisa kita amalkan. Membaca shalawat dan menyebut nama Allah Untuk Mempercepat amalan, maka Anda baiknya membaca shalawat sebanyak 11 kali kemudian menyebut nama Allah sebanyak 313 kali serta terakhir membaca shalawat lagi sebanyak 11 kali. Amalkanlah bacaan shalat ini setiap selesai shalat selama 41 hari tanpa jeda. Bacaan Asmaul Husna Untuk Mendapatkan Jodoh Hendaknya lebih baik lagi Anda melaksanakan Amalan asmaul husna ini pada setiap shalat hajat. Berikut adalah bacaan dzikir Asmaul Husna Yaa Rahman 100x Yaa Rohiim 100x Ya Wadudu 100x Yaa Hamidu 100x Ya Hayyu 100x Ya Qoyyum 100x Bacaan Dzikir Sehabis Shalat Shubuh Setelah shalat shubuh berjamaah, hendaknya kita tidak bergegas terlebih dahulu, namun lanjutkan membaca dzikir sebagai berikut – Istighfar 100x – Shalawat Nabi 100x – Membaca Surat Al fajri 1x dan Surat Al waqiah 1x – Usahakan setiap hari mengeluarkan sedekah pada fakir miskin dan yatim piatu serta membantu kelancaran majelis-majelis ilmu. Kita hanya bisa berikhtiar dan berdoa sebaik mungkin. Tingkatkan kualitas diri dan InsyaAllah Jodoh cerminan diri akan segera datang. Mari tingkatkan kualitas diri dan berikhtiar bersa,a dengan bergabung bersama Evermos. Dapatkan penghasilan tambahan dengan bergabung menjadi reseller Evermos Belum Punya Modal untuk Memulai Usaha? Tenang, Evermos Punya Solusinya! Persoalan modal sebenarnya bisa teratasi. Banyak orang yang sulit memulai untuk berbisnis karena terkendala dengan hal modal. Apakah Anda salah satunya? Seringkali pusing sendiri mencari modal dan akhirnya bingung bagaimana cara untuk memulai usaha? Tenang, bagi Anda yang ingin memiliki bisnis, namun belum memiliki cukup modal, menjadi seorang reseller Evermos merupakan pilihan yang tepat. Banyak kemudahan dan keuntungan yang akan Anda dapatkan dengan menjadi reseller Evermos, antara lain Bisnis tanpa modal Memiliki toko online sendiri Tidak perlu pusing cari supplier Tidak perlu memikirkan stok dan pengiriman Mendapatkan pelatihan bisnis online dari ahlinya Berkesempatan bergabung dengan komunitas reseller dari berbagai daerah Bagaimana? Menarik bukan? Mari raih potensi untuk mendapatkan penghasilan sesuai keinginan dengan menjadi reseller Evermos. Yuk, segera daftarkan diri Anda dengan menjadi reseller hebat di Evermos. Dengan cara klik di bawah ini dan langsung mulai berjualan! Demikianlah doa mendapat jodoh yang diinginkan yang bisa anda Amalkan setiap harinya. Semoga semua ikhtiar dan doa Anda segera Allah kabulkan dan bisa mendapatkan jodoh yang sholeh. Semoga artikel ini bermanfaat bagi Anda yang membutuhkan. Untuk membaca Artikel kumpulan doa lainnya, Anda bisa mengunjungi situs blog Evermos. Related posts Banyak mungkin di antara kita yang masih berpendapat bahwa Rezeki, Ajal, serta jodoh telah ditetapkan oleh Allah semenjak kita masih di dalam kandungan. Pemikiran seperti ini mungkin telah mendarah daging di dalam diri kita. Apalagi kiranya sejak kecil mungkin orang tua, guru, dan lingkungan masyarakat dimana tempat kita hidup pun kalimat ini sampai sekarang masih sangat familiar diulang-ulang. Untuk membahas ini, maka mari kita coba untuk urai masalah ini sehingga kita bisa menyimpulkan tentang hakikat dari ketiga kata tersebut, yakni seputar Rezeki, Ajal, dan Jodoh. Ar-Rizqu rezeki secara bahasa berasal dari akar kata razaqa–yarzuqu–razq[an] wa rizq[an]. Razq[an] adalah mashdar yang hakiki, sedangkan rizq[an] adalah ism yang diposisikan sebagai mashdar. Kata rizq[an] maknanya adalah marzûq[an] apa yang direzekikan; mengunakan redaksi fi’l[an] dalam makna maf’ûl obyek seperti dzibh[an] yang bermakna madzbûh sembelihan. Secara bahasa razaqa artinya a’thâ memberi dan ar-rizqu artinya al-atha’ pemberian. Menurut ar-Razi dan al-Baydhawi, secara bahasa ar-rizqu juga berarti al-hazhzhu bagian/porsi, yaitu nasib bagian seseorang yang dikhususkan untuknya tanpa orang itu, Abu as-Saud mengartikan ar-rizqu dengan al-hazhzhu al-mu’thâ bagian/porsi yang diberikan. Menurut Ibn Abdis Salam dalam tafsirnya, asal dari ar-rizqu adalah al-hazhzhu bagian/porsi. Karena itu, apa saja yang dijadikan sebagai bagian/porsi seseorang dari pemberian Allah adalah rizq[an]. Selain itu, ar-rizqu juga diartikan apa saja yang bisa dimanfaatkan. Dari semuanya itu, ar-rizqu bisa diartikan sebagai bagian/porsi dari pemberian Allah kepada seorang hamba berupa apa saja yang bisa dimanfaatkan sebagai bagian/porsi yang dikhususkan untuknya. Ayat-ayat tentang rezeki lebih banyak menunjuk pada harta baik berupa barang maupun jasa yang bisa dimanfaatkan untuk memenuhi aneka kebutuhan manusia. Konteks ayat-ayat bahwa Allah meluaskan dan menyempitkan rezeki juga lebih menunjuk pada konotasi harta. Itu pula yang diindikasikan oleh ayat-ayat yang mengaitkan rezeki dengan konsumsi dan infak pembelanjaan, karena konsumsi dan infak hanya terkait dengan harta. Rezeki berbeda dengan kepemilikan. Kepemilikan adalah penguasaan sesuatu dengan tatacara yang diperbolehkan syariah untuk menguasai harta. Jadi, rezeki itu mencakup rezeki yang halal maupun yang haram. Inilah yang menjadi pendapat Ahlus Sunnah sebagaimana yang ditegaskan oleh Imam al-Qurthubi. Semuanya dikatakan sebagai rezeki. Harta yang diambil penjudi dari lawannya dalam perjudian adalah rezeki. Sebab, rezeki yang halal ataupun haram itu adalah harta yang diberikan oleh Allah ketika seseorang berbuat untuk melangsungkan kondisi yang di dalamnya bisa diperoleh rezeki. Rezeki bukan hanya yang secara riil dimanfaatkan dinikmati oleh seseorang. Ayat-ayat al-Quran menunjukkan bahwa rezeki manusia adalah apa saja yang ia kuasai baik yang ia manfaatkan maupun tidak Lihat QS al-Baqarah [2] 57, 60; an-Nisa’ [4] 5; ar-Ra’d [13] 26; al-Hajj [22] 34. Ayat-ayat itu jelas memutlakkan rezeki untuk menyebut semua yang dikuasai baik dimanfaatkan secara riil maupun tidak. Tidak bisa dikhususkan pada apa yang dimanfaatkan secara riil saja tanpa ada ayat yang mengkhususkannya, karena ayat-ayat tersebut bersifat umum dan penunjukannya juga umum. Jika orang mencuri, menilap atau merampas harta orang lain, tidak dikatakan ia mengambil rezeki orang itu. Namun, ia mengambil rezkinya dari orang itu. Tidak ada seorang pun yang mengambil rezeki orang lain, melainkan seseorang mengambil rezekinya dari pihak lain. Rezeki dan Usaha Banyak orang menduga, merekalah yang mendatangkan rezeki mereka sendiri. Mereka menganggap kondisi-kondisi mereka meraih harta —barang atau jasa—sebagai sebab datangnya rezeki; meskipun mereka menyatakan, bahwa Allahlah Yang memberikan rezeki. Profesi atau usaha yang dicurahkan mereka anggap sebagai sebab datangnya rezeki. Fakta yang ada sebenarnya cukup jelas menunjukkan kesalahan anggapan itu. Banyak orang yang telah berusaha dengan segenap tenaga dan pikirannya, tetapi rezeki tidak datang, bahkan tidak jarang justru merugi. Sebaliknya, sangat banyak fakta bahwa rezeki datang kepada seseorang tanpa dia melakukan usaha apapun. Ini menunjukkan bahwa usaha bukan sebab bagi datangnya rezeki. Rezeki tidak berada di tangan manusia. Allahlah yang menentukan rezeki itu datang kepada manusia dan Dia memberinya kepada manusia menurut kehendak-Nya. Banyak ayat al-Quran menegaskan secara pasti bahwa rezeki semata ada di tangan Allah dan Allahlah yang memberi rezeki QS. al-Baqarah [2] 172, 212, 254; Ali Imran [3] 27, 37; al-An’am [6] 142; al-Ankabut [29] 60; ar-Rum [30] 40; dsb. Dia meluaskan dan menyempitkan rezeki seseorang sesuai dengan kehendakNya. QS. ar-Ra’d [13] 26; al-Isra’ [17] 30; al-Qashshash [28] 82; al-Ankabut [29] 62; ar-Rum [30] 37; Saba’ [34] 36; az-Zumar [39] 52; asy-Syura [42] 12. Sesuai kehendak-Nya, Dia memberi rezeki kepada seseorang dari arah yang tidak disangka-sangka. Karena itu, Allah SWT berfirman artinya Mintalah rezeki itu di sisi Allah QS. al-Ankabut [29] 17. Jadi, rezeki semata di tangan Allah dan hanya Allahlah yang memberi rezeki. Ini adalah keyakinan yang harus diimani dan mengingkarinya berarti kufur. Adapun dari sisi amal, Allah SWT mewajibkan hamba-Nya untuk berusaha dan berikhtiar melangsungkan kondisi-kondisi yang di dalamnya rezeki bisa datang. Namun, pada saat yang sama, ia harus paham bahwa usaha, ikhtiar dan kondisi itu bukan sebab bagi datangnya rezeki. Allah tidak menanyakan tentang datang dan tidaknya rezeki, tetapi Allah akan menanyakan usaha dan amal hamba untuk mencari rezeki. Karenanya, Allah menjelaskan mana yang halal dan yang tidak. Rezeki setiap hamba telah dijamin oleh Allah. Allah pun telah menetapkan kadar dan takaran bagian atau porsi rezeki tiap hamba Lihat QS. Hud [11] 6 Imam Muslim meriwayatkan dari Ibn Mas’ud bahwa pada usia kandungan 120 hari, Allah mengutus malaikat untuk menuliskan beberapa ketetapan atas janin itu, termasuk ketetapan rezeki dan ajalnya. Para ulama menjelaskan, yaitu ketetapan sedikit dan banyaknya rezeki. Sedikit dan banyaknya rezeki atau kaya dan miskinnya seorang hamba tidak akan dihisab oleh Allah karena itu semata adalah ketetapan Allah. Allah SWT meluaskan dan menyempitkan rezeki seorang hamba sesuai kehendak-Nya. Itu adalah ujian bagi hamba QS. al-Fajr [89] 15-16. Kaya dan miskin tidak bersifat baik atau buruk dengan sendirinya; juga tidak menentukan mulia dan hinanya seseorang. Namun, kaya dan miskin itu menjadi baik atau buruk, memuliakan atau menghinakan, ditentukan oleh penyikapan terhadapnya. Rezeki seorang hamba telah dijamin oleh Allah. Porsi dan takarannya juga telah ditetapkan. Jika hamba itu memintanya dengan jalan yang halal ataupun dengan jalan yang haram, Allah berikan. Namun, Allah akan menanyai tatacara perolehan dan pembelanjaan harta itu. اَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ Kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada Hari Kiamat hingga ia ditanyaUmurnya dia habiskan untuk apa; ilmunya diamalkan untuk apa; hartanya dari mana ia peroleh dan dibelanjakan untuk apa dan tubuhnya digunakan untuk apa. HR at-Tirmidzi. Seret atau tertundanya rezeki hendaknya tidak membuat seseorang tergesa-gesa lalu memintanya kepada Allah dan mencarinya dengan jalan yang haram. Rasul saw. berpesan إِنَّ رُوْحَ الْقُدْسِ نَفَثَ فِيْ رَوْعِيْ إِنَّ نَفْسًا لاَ تَمُوْتُ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقُهَا فَاتَّقُوْا اللهَ وَأَجْمِلُوْا فِيْ الطَّلَبِ وَلاَ يَحْمِلَنَّكُمْ اِسْتِبْطَاءُ الرِّزْقِ أَنْ تَطْلُبُوْهُ بِمَعَاصِيْ اللهِ فَإِنَّ اللهَ لاَ يُدْرَكُ مَا عِنْدَهُ إِلاَّ بِطَاعَتِهِ Malaikat Jibril membisikkan di dalam hatiku, bahwa suatu jiwa tidak akan mati hingga telah sempurna rezekinya. Karena itu, bertakwalah kepada Allah dan carilah rezeki dengan cara yang baik —halal, proporsional dan tidak tersibukkan dengannya— dan hendaklah tertundanya lambatnya datang rezeki tidak mendorong kalian untuk mencarinya dengan kemaksiatan kepada Allah, karena sesungguhnya keridhaan di sisi Allah tidak akan bisa diraih kecuali dengan ketaatan kepada-Nya HR Abu Nu’aim, al-Baihaqi dan al-Bazar dari Ibn Mas’ud. Keimanan tentang rezeki itu menjadi salah satu kunci seorang tidak akan tersibukkan dengan dunia, tidak menjadi pemburu harta, bisa bersikap zuhud, giat beramal, berdakwah amar makruf nahi mungkar dan ketaatan pada umumnya. Imam Hasan al-Bashri pernah ditanya tentang rahasia zuhudnya. Beliau menjawab, “Aku tahu rezekiku tidak akan bisa diambil orang itu, hatikupun jadi tenteram. Aku tahu amalku tidak akan bisa dilakukan oleh selainku. Karena itu, aku pun sibuk beramal. Aku tahu Allah selalu mengawasiku. Karena itu, aku malu jika Dia melihatku di atas kemaksiatan. Aku pun tahu kematian menungguku. Karena itu, aku mempersiapkan bekal untuk berjumpa dengan-Nya.” 2. JODOH Lafadz “jodoh” adalah kata yang dipakai dalam bahasa Indonesia untuk menunjuk makna tertentu. Lafadz ini berbeda dengan lafadz suami, istri, pasangan hidup atau yang semisal dengannya. Lafadz jodoh menurut kamus bahasa Indonesia adalah “pasangan yang cocok” baik bagi laki-laki maupun perempuan. Oleh karena itu lafadz jodoh memiliki makna yang lebih spesifik dari lafadz suami, istri, atau pasangan hidup, sebab di sana terdapat penjelasan sifat lebih khusus dari sekedar pasangan hidup. Dalam bahasa Arab, kata yang bermakna “jodoh” seperti yang terdapat dalam bahasa Indonesia tidak ditemukan. Para Fuqaha’ ketika membahas hukum pernikahan hanya menyebut istilah زَوْجٌ atau بَعْلٌ untuk suami, dan زَوْجَةٌ atau امْرَأَةٌ untuk istri, yakni istilah-istilah yang berkonotasi “netral” tanpa ada penekanan sifat tertentu sebagaimana kata suami, istri, atau pasangan hidup dalam bahasa Indonesia. Adapun makna jodoh yang menjadi topik diskusi di sini adalah “orang atau individu tertentu yang akan menjadi pasangan hidup kita”, dengan titik diskusi Apakah Allah telah menentukan dalam Lauhul Mahfudz, sebelum manusia dilahirkan bahwa ia akan dipasangkan dengan individu tertentu ataukah tidak? Artinya apakah Allah sudah mentakdirkan dalam Azal bahwa A akan dipasangkan dengan B, C dipasangkan dengan D, ataukah tidak? Untuk menjawab pertanyaan ini, tentu harus dilakukan studi yang mendalam terhadap nash-nash yang terkait dengan topik tersebut berdasarkan Al-Qur’an dan as-Sunnah atau dalil yang ditunjuk keduanya seraya mengesampingkan semua dasar yang tidak terkait dengan nash Al-Qur’an dan As-Sunnah baik ia berupa adat, tradisi, pameo, peribahasa, dsb. Hanya saja, pembahasan tentang jodoh termasuk perkara Qadha’ atau bukan tidak boleh dicampur adukkan dengan pembahasan keimanan bahwa Allah adalah اْلمُدَبِّرُ Maha Pengatur. Sebab, pembahasan “jodoh termasuk perkara Qadha’ atau bukan” adalah satu hal, sementara pembahasan tentang keimanan bahwa Allah bersifat اْلمُدَبِّرُ adalah hal yang lain. Masing-masing adalah topik tersendiri yang harus dibahas berdasarkan nash-nash yang terkait dengan topik itu. Mencampur adukkan dua topik pembahasan ini adalah langkah keliru karena bertentangan dengan fakta pembahasan, sebagaimana bisa berakibat kekacauan terhadap pemahaman. Dengan demikian dua macam pembahasan itu harus dipisahkan. Jodoh dan Aqidah Tinjauan sekilas terhadap persoalan jodoh menunjukkan bahwa persoalan ini adalah termasuk masalah aqidah, sebab kepercayaan bahwa Allah mentakdirkan A berpasangan dengan B, C berpasangan dengan D, atau Allah tidak mentakdirkan itu adalah jenis keyakinan, bukan amal. Efek pembahasan yang paling akhir adalah membentuk keyakinan tertentu seputar persoalan tersebut, bukan membahas apa yang harus dikerjakan oleh seorang mukallaf. Dengan demikian masalah jodoh adalah masalah aqidah, bukan syariat dan dalam masalah ini pambahasan tersebut tidak ada bedanya dengan pembahasan tentang rezeki, ajal, Dajjal, siksa kubur, dsb. Dalam persoalan aqidah, seorang Muslim harus mendasarkan semua kepercayaannya atas dalil yang shohih. Tidak diperkenankan seorang Muslim memiliki keyakinan tanpa ada dalil., yakni sekedar menduga-duga atau mengikuti umumnya kata orang. Dalil itu pun harus bersifat قَطْعِيٌّ pasti, tidak boleh bersifat ظَنِّيٌّ dugaan. Meskipun ada Qorinah indikasi yang menunjukkan pada keyakinan tertentu, selama dalil itu bersifat ظَنِّيٌّ tidak boleh seorang Muslim mengambilnya sebagai aqidah. Allah telah mencela keras orang-orang kafir yang memiliki keyakinan bahwa para Malaikat itu berjenis kelamin wanita “Sesungguhnya orang-orang yang tiada beriman kepada kehidupan akhirat, mereka benar-benar menamakan Malaikat itu dengan nama perempuan. Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuanpun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedang persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran.” An-Najm;27-2. Artinya orang-orang kafir itu punya keyakinan bahwa Malaikat berjenis kelamin wanita tetapi mereka tidak memiliki bukti dalil atau argumentasi untuk menguatkan keyakinannya. Keyakinan mereka hanya didasarkan pada dugaan ظَنٌّ , padahal dzon itu sama sekali tidak ada nilainya untuk membuktikan الْحَقُّ Dari sini bisa difahami, bahwa langkah yang harus dilakukan untuk menjawab persoalan jodoh adalah mencari dalil yang menunjukkan bahwa Allah telah menetapkan pasangan hidup manusia sebelum mereka diciptakan. Dalil itupun harus bersifat قَطْعِيٌّ baik قَطْعِيُّ الثُّبُوْتِ pasti sumbernya maupun قَطْعِيُّ الدَّلاَلَةِ pasti penunjukan maknanya. Setelah dilakukan kajian terhadap persoalan ini, nyatalah bahwa tidak ada nash baik dalam al-Qur’an mapun as-Sunnah, juga Ijma’ sahabat dan Qiyas yang menunjukkan bahwa Allah menetapkan calon pasangan seseorang. Bahkan nash-nash yang ada menunjukkan bahwa persoalan ini adalah masalah mu’amalah biasa yang berada dalam area yang dikuasai manusia. Artinya persoalan menentukan pasangan hidup adalah hal yang bersifat pilihan, yang manusia bertanggung jawab di dalamnya dan dihisab atasnya. Dalil yang menunjukkan bahwa menentukan pasangan hidup adalah pilihan manusia adalahMaka kawinilah wanita-wanita lain yang kamu senangi dua, tiga atau empat. An-Nisa;4. Hak Memilih Jodoh Lafadz فَانْكِحُوْا مَا طَابَ لَكُمْ begitu jelas menunjukkan bahwa setiap Muslim dipersilahkan memilih calon istrinya. Alasannya, ketika Allah memubahkan untuk menikahi wanita-wanita yang طَابَ manis, enak, lezat, menyenangkan bagi mereka, dan tidak mencela lelaki yang tidak mau menikahi wanita karena merasa kurang mantap, baik karena fisik maupun sifatnya, ini semua menunjukkan bahwa persoalan ini adalah persoalan pilihan اخْتِيَارِيٌّ bukan Qadha’. Dalil lain yang mendukung adalah kenyataan bahwa syara’ memberikan hak menentukan calon suami sebagai hak penuh kaum wanita, yang tidak boleh ada intervensi dari siapapun meski itu ayah, ibu, paman, musyrif, atau khalifah sekalipun. عن بن بريدة عن أبيه قال جاءت فتاة إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقالت ثم إن أبي زوجني بن أخيه ليرفع بي خسيسته قال فجعل الأمر إليها فقالت قد أجزت ما صنع أبي ولكن أردت أن تعلم النساء أن ليس إلى الآباء من الأمر شيء. رواه ابن ماجه Dari Ibnu Buraidah dari ayahnya dia berkata Seorang gadis datang kepada Nabi Saw. Kemudian ia berkata Sesungguhnya ayahku menikahkan aku dengan putra saudaranya untuk mengangkat derajatnya melalui aku. Maka Nabipun menyerahkan keputusan itu pada gadis tersebut. Maka gadis itu berkata Aku telah mengizinkan apa yang dilakukan ayahku, akan tetapi aku hanya ingin agar para wanita tahu bahwa para ayah tidak punya hak dalam urusan ini. HR. Ibnu Majah dan An-Nasa’i. Dalam hadis di atas, Nabi memberi kebebasan penuh pada gadis tersebut untuk memutuskan apakah melanjutkan pernikahannya ataukah membatalkannya. Ini menunjukkan bahwa menentukan calon suami adalah hak penuh bagi wanita dan merupakan pilihan dia semata-mata. Dalil lain yang mendukung adalah adanya syari’at talak. Talak adalah pembubaran akad nikah. Syari’at talak memungkinkan seseorang yang menjadi pasangan hidup orang lain untuk berpisah pada satu waktu tertentu dengan sebab-sebab tertentu. Karena itu mustahil dikatakan bahwa seseorang sudah dipasangkan dengan orang tertentu jika ternyata syara’ memberikan suatu mekanisme untuk membubarkan akad nikah. Lebih dari itu studi terhadap akad-akad yang diatur dalam syari’at Islam menunjukkan bahwa semua akad yang disana terdapat Ijab dan Qabul adalah mu’amalah yang berada dalam area yang dikuasai manusia. Dengan demikian jual-beli, Ijarah, Wakalah, Syirkah, dan semisalnya adalah termasuk perkara mu’amalah yang berada dalam area yang dikuasai manusia. Manusia akan dimintai pertanggung jawaban dalam aktivitas itu. Jika ia melakukan jual-beli, Ijarah, Wakalah, dan Syirkah, dengan cara yang syar’i maka ia bebas dari hukuman, tetapi jika ia melakukannya dengan cara batil maka ia akan dijatuhi hukuman. Demikian pula masalah menentukan pasangan hidup. Jika seorang wanita Muslimah memutuskan menikah dengan orang kafir maka ia akan dihukum, sebaliknya jika ia menikah dengan lelaki yang dihalalkan syara’ maka ia bebas dari hukuman. Adapun ayat yang berbunyi Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri. QS. Ar-Rum [30] 21 Dan Kami menciptakan kalian berpasang-pasangan.QS. An-Naba’ [78] 8 Juga termasuk ayat-ayat yang semisal dengannya, maka ayat ini sama sekali tidak terkait dengan masalah jodoh, dan tidak ada Qorinah apapun yang menunjukkan bahwa Allah menetapkan A menikah dengan B, C menikah dengan D, baik secara صَرَاحَةٌ jelas maupun دَلاَلَةٌ penunjukan makna. Tidak hanya itu, secara Manthuq dan Mahfum ayat ini tidak bisa difahami sebagai ayat jodoh, sebab Sighot redaksional ayat serta مَوْضُوْعٌ topik pembahasan memang tidak menunjuk ke arah sana. Maksud dari diciptakannya manusia berpasang-pasangan tidak lain adalah bahwa manusia terdiri dari jenis laki-laki dan perempuan yang dengannya Allah memperkembangbiakkan spesies manusia di muka bumi, bukan ditetapkannya bahwa A akan menikah dengan B atau C akan menikah dengan D. Adapun ayat yang berbunyi Khobitsat adalah untuk Khobitsun, dan Khobitsun adalah buat Khobitsat pula, dan Thoyyibat adalah untuk Thoyyibun dan Thoyyibun adalah untuk Thoyyibat pula. Mereka yang dituduh itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka yang menuduh itu. bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia surga An-Nur; 26maka ayat ini juga bukan ayat jodoh. Sebab As-babun Nuzul dari ayat ini adalah terkait dengan حَدِيْثُ اْلإِفْكِ yakni peristiwa tuduhan atas Aisyah yang diisukan berbuat serong dengan seorang sahabat yang bernama Shofwan bin Mu’ath-thol. Karena itulah para mufassirin ketika menafsirkan ayat ini, mereka menukil penafsiran Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa yang dimaksud الْخَبِيْثَات dalam ayat ini adalah ucapan-ucapan yang buruk. Artinya ucapan-ucapan yang buruk diantaranya adalah memfitnah wanita baik-baik berbuat zina hanya akan muncul dari orang-orang yang buruk, yakni orang-orang munafik atau orang-orang yang hatinya ada penyakit. Bukannya orang shalih pasti akan menikah dengan wanita shalih dan lelaki shalih akan menikah dengan wanita shalihah. Karena itu wajar jika diceritakan dalam al-Qur’an bahwa Nabi Luth beristri wanita yang tidak shalihah sebagaimana istri Fir’aun yang shalihah bersuami Fir’aun yang kafir. Hal ini dikarenakan urusan pernikahan adalah mu’amalah biasa bukan sesuatu yang telah ditetapkan sebagai mana rizki dan ajal. Jadi ayat ini tidak sah digunakan sebagai dalil bahwa persoalan jodoh adalah sesuatu yang ditakdirkan, atau Allah telah menentukan “kaidah umum” dalam pengaturan jodoh seseorang. Jodoh dan Ketetapan Lauhul Mahfudz Dari sini bisa difahami, bahwa jodoh bukanlah perkara yang sudah ditetapkan di Lauhul Mahfudz, tetapi ia adalah mu’amalah biasa sebagaimana mu’amalah yang lain, yang berada di area yang dikuasai manusia dan manusia dihisab atasnya. Namun pemahaman bahwa jodoh adalah sesuatu yang berada dalam area yang dikuasai manusia bukan berarti pengingkaran bahwa Allah adalah اْلمُدَبِّرُ yang bersifat Maha Mengatur dan الْحَاكِمُ yang Maha Memutuskan. Setiap Mukmin ketika melaksanakan suatu aktivitas dalam area yang dikuasainya kemudian ternyata apa yang terjadi di luar harapannya dan di luar dugaannya, maka ia harus ridlo terhadap hal itu dan mengimani bahwa Allah adalah Dzat yang Maha Mengatur. Sebagai contoh Seorang Muslim hendak naik haji dan sudah menyiapkan semua biaya dan bekal kemudian secara tiba-tiba Allah memberinya sakit. Pada kondisi ini, harus difahami bahwa melaksanakan ibadah haji adalah wilayah yang dikuasai manusia, tetapi pemahaman ini harus disertai keyakinan bahwa Allah bersifat اْلمُدَبِّرُ . Dengan demikian ia menjadi ridlo terhadap segala apa yang menimpanya, karena semua itu berada diluar kuat kuasanya. Demikian pula dalam persoalan pasangan hidup. Memilih siapapun yang akan menjadi pasangan hidup semuanya adalah perkara اخْتِيَارِيٌّ, akan tetapi terkait dengan kesepakatan, ini adalah masalah lain. Seorang dalam memutuskan sesuatu boleh jadi Allah mencondongkan pada suatu keputusan tertentu, boleh jadi membiarkannya. Sebab Allah adalah Dzat yang kuasa membolak-balikkan hati manusia. Namun ketika Allah mencondongkan pada suatu keputusan, bukan berarti Allah memasangkan X dengan Y atau P dengan Q sejak zaman Azali, alasannya orang masih punya pilihan mutlak untuk memutuskan hatta terhadap sesuatu yang berlawanan sama sekali dengan kehendaknya. Karena itu keimanan yang harus dimiliki adalah keimanan bahwa Allah bersifat اْلمُدَبِّرُ secara mutlak, baik pada area yang dikuasai manusia maupun yang tidak dikuasai manusia, bukan keimanan bahwa Allah telah menetapkan dalam Lauhul Mahfudz bahwa A dipasangkan dengan B atau C dipasangkan dengan D. Atas dasar ini semua pemahaman yang belum sesuai dengan nash-nash syara’ sesegera mungkin harus dikoreksi. Tidak boleh menjadikan alasan kemaslahatan misalnya “cara ini cukup efektif untuk menghentikan orang dari pacaran” untuk mengadopsi pemahaman yang keliru tentang jodoh. Alasannya hal ini adalah persoalan hukum syara’ bukan persoalan uslub dakwah yang masih mungkin dipilih uslub yang paling tepat. 3. AJAL/KEMATIAN Secara bahasa kata ajal berasal dari kata ajila–yajalu–ajal[an]. Menurut al-Khalil al-Farahidi dalam Kitâb al-Ayn dan ash-Shahib ibn Abad di dalam Al-Muhîth fî al-Lughah, dikatakan ajila asy-syayu yajalu wahuwa âjilun artinya naqîdu al-âjil lawan dari segera. Dengan demikian, al-ajal bentuk pluralnya al-âjalu secara bahasa artinya terlambat atau tertunda. Selain itu, secara bahasa, kata ajal juga memiliki beberapa makna sebagai berikut Ghâyah al-waqti fî al-mawti wa mahalu ad-dayn wa nahwuhu akhir waktu pada kematian dan jatuh tempo utang dan semacamnya Al-Azhari, Tahdzîb al-Lughah. Muddah asy-syayi jangka waktu sesuatu Ibn Manzhur, Lisân al-Arab; al-Jauhari, Ash-Shihah fî al-Lughah. Muddatuhu wa waqtuhu al-ladzî yahillu fîhi jangka waktunya dan waktu saat sesuatu itu berlalu Al-Fayumi, Mishbâh al-Munîr. Jangka waktu yang ditetapkan untuk sesuatu atau perbuatan Rawas Qal’ahji, Mu’jam Lughah al-Fuqahâ’. Waktu yang ditetapkan untuk habisnya sesuatu Abu Hilal al-Askari, al-Furûq al-Lughawiyah. Dari sini ajal al-insân ajal manusia adalah akhir kehidupan seseorang atau habisnya umur seseorang. Artinya, saat ajal seseorang itu tiba, saat itu pulalah kematian datang menjemputnya. Di dalam al-Quran kata ajal dan bentukannya disebutkan sekitar 55 kali. Di antaranya dalam arti jangka waktu misal QS al-Baqarah [2] 231, 232, 234, 235; al-A’raf [7] 135; umur misal; QS al-A’raf [7] 34; Yunus [10] 11, 49; akhir umur/akhir kehidupan misal QS an-Nahl [16] 61; Fathir [35] 45. Sebab Kematian Berakhirnya Ajal Ayat-ayat al-Quran yang qath’i tsubut dan qath’i dilalah menyatakan secara pasti bahwa Allah SWT sajalah Zat Yang menghidupkan dan mematikan. Allah SWT berfirman وَاللَّهُ يُحْيِي وَيُمِيتُ Allah menghidupkan dan mematikan QS. Ali Imran [3] 156. Al-Quran juga menegaskan hal ini pada banyak ayat lainnya lihat QS. al-Baqarah [2] 73, at-Tawbah [9] 116, Yunus [10] 56, al-Hajj [22] 6, al-Mu’minun [23] 80, al-Hadid [57] 2. Allah SWT telah menetapkan ajal bagi tiap-tiap umat maupun individu. Kematian, yaitu datangnya ajal, telah ditentukan waktunya sebagai suatu ketetapan dari Allah yang tidak bisa dimajukan maupun dimundurkan. Allah SWT berfirman وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تَمُوتَ إِلا بِإِذْنِ اللَّهِ كِتَابًا مُؤَجَّلا Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. QS. Ali Imran [3] 145. مَا تَسْبِقُ مِنْ أُمَّةٍ أَجَلَهَا وَمَا يَسْتَأْخِرُونَ Tidak ada suatu umat pun yang dapat mendahului ajalnya dan tidak pula dapat memundurkannya QS. al-Hijr [15] 5; al-Mu’minun [23] 43 Pernyataan senada antara lain terdapat dalam QS. Yunus [10] 49; an-Nahl [16] 61 dan QS al-Munafiqun [63] 11. Jadi, habisnya ajal atau datangnya kematian adalah sesuatu yang pasti QS al-Ankabut [29] 5. Karena kematian adalah pasti datangnya maka manusia tidak akan bisa lari menghindar darinya. Allah SWT menegaskan قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلاقِيكُمْ Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kalian lari darinya tetp akan menemui kalian.” QS. al-Jumu’ah [62] 8. Allah SWT juga menegaskan أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ Di mana saja kalian berada, kematian akan menjumpai kalian kendati kalian berada dalam benteng yang tinggi lagi kokoh. QS. an-Nisa’ [4] 78. Ayat ini menegaskan, jika orang berupaya menghindar dari kematian—dengan jalan membentengi diri dari apa saja yang dia sangka menjadi sebab datangnya kematian seakan dia berlindung dalam benteng yang tinggi lagi sangat kokoh sekalipun—maka hal itu tidak akan bisa menghindarkannya dari kematian. Sebab, semua yang disangka sebagai sebab maut itu baik berupa sakit, perang, dsb, sejatinya bukanlah sebab maut. Semua itu hanyalah kondisi yang didalamnya kadang terjadi kematian, namun kadang juga tidak. Ayat-ayat tersebut menegaskan bahwa satu-satunya sebab kematian adalah habisnya ajal, yaitu habisnya jangka waktu yang ditetapkan untuk manusia; atau datangnya ajal, yaitu datangnya batas akhir umur manusia. Ketika itulah, Allah SWT mematikannya dengan mengutus Malaikat Maut untuk mencabut ruh dari jasad. QS. as-Sajdah [32] 11. Masalah ajal ini persis seperti masalah rezeki. Ajal dan umur tiap orang telah ditetapkan oleh Allah. Allah SWT juga menegaskan tidak akan memajukan atau menangguhkan ajal seseorang. Allah tidak akan menambah atau mengurangi jatah umur seseorang. Dalam QS al-Munafiqun [63] 11, Allah mengungkapkan dengan kata lan yang merupakan penafian selama-lamanya Lihat pula QS. Fathir [35] 11. Kepastian Datangnya Ajal Datangnya ajal adalah pasti, tidak bisa dimajukan ataupun dimundurkan. Berjihad, berdakwah, amar makruf nahi mungkar, mengoreksi penguasa, dsb, tidak akan menyegerakan ajal atau mengurangi umur. Begitu pula berdiam diri, tidak berjihad, tidak berdakwah, tidak mengoreksi penguasa, tidak beramar makruf nahi mungkar, dan tidak melakukan perbuatan yang disangka berisiko mendatangkan kematian, sesungguhnya tidak akan bisa memundurkan kematian dan tidak akan memperpanjang umur. Semua itu jelas dan tegas dinyatakan oleh ayat-ayat al-Quran seperti di atas. Memang, ada sabda Nabi saw. sebagai berikut مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ رِزْقُهُ أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ Siapa saja yang suka dilapangkan rezekinya dan ditambah umurnya hendaklah ia bersilaturahmi. HR al-Bukhari, Muslim, Abu dan Ahmad. Juga ada beberapa hadis semisalnya. Dalam hal ini, yang dimaksud dengan pertambahan umur bukanlah penundaan ajal. Yang bertambah tidak lain adalah keberkahan umurnya dalam ketaatan kepada Allah. Bisa juga maknanya adalah bukan pertambahan umur biologis, tetapi umur sosiologis, yakni peninggalan, jejak atau atsar al-umri-nya yang terus mendatangkan manfaat dan pahala setelah kematian biologisnya. Abu Darda menuturkan bahwa Rasul saw. pernah bersabda إِنَّ اللهَ لاَ يُؤَخِرُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا، وَإِنَّمَا زِيَادَةُ الْعُمْرِ بِالذُّرِيَّةِ الصَّالِحَةِ يَرْزُقُهَا الْعَبْدَ، فَيَدْعُوْنَ لَهُ مِنْ بَعْدِهِ، فَيَلْحِقَهُ دُعَاؤُهُمْ فِيْ قَبْرِهِ، فَذَلِكَ زِيَادَةُ الْعُمْرِ Sesungguhnya Allah tidak akan mengakhirkan kematian seseorang jika telah datang ajalnya. Sesungguhnya bertambahnya umur itu dengan keturunan salih yang Allah karuniakan kepada seorang hamba, lalu mereka mendoakannya sesudah kematiannya sehingga doa mereka menyusulinya di kuburnya. Itulah pertambahan umur. HR Ibn Abi Hatim dikutip oleh al-Hafizh Ibn Katsir di dalam tafsirnya QS. Fathir [35] 11. Selain anak salih, hadis lain menyatakan bahwa ilmu yang bermanfaat, sedekah jariah dan sunnah hasanah juga akan memperpanjang umur sosiologis seseorang. Pelakunya, meski telah mati secara biologis, seakan ia tetap hidup dan beramal dengan semua itu serta mendapat pahala karenanya. Dengan demikian, tidak ada gunanya lari dari maut. Maut juga tidak selayaknya ditakuti karena pasti datangnya. Sikap takut akan mati dan berupaya lari dari maut yang pasti datang bisa dikatakan sebagai sikap bodoh dan upaya yang sia-sia. Yang harus dilakukan adalah mempersiapkan diri menyongsong datangnya maut dan memelihara diri supaya maut itu datang dalam kondisi kita sedang menunaikan ketaatan sehingga kita mendapatkan husnul khatimah. Inilah sikap cerdas dan upaya yang berdaya guna. Orang yang paling cerdas adalah orang yang paling banyak dan paling baik persiapannya dalam menyongsong datangnya maut. Ibnu Umar meriwayatkan, Rasul saw. pernah ditanya, siapakah Mukmin yang paling cerdas? Beliau menjawab أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لَهُ اِسْتِعْدَادًا قَبْلَ أَنْ يَنْزِلَ بِهِمْ أُوْلَئِكَ مِنْ اْلأَكْيَاسِ Mereka yang paling banyak mengingat maut dan paling baik persiapannya untuk menghadapi maut itu sebelum turun kepada mereka. Mereka itulah yang termasuk Mukmin yang paling cerdas. HR Ibn Majah, al-Hakim, al-Baihaqi, Abu Nu’aim dan ath-Thabrani. KESIMPULAN 1. Rezeki merupakan takdir yang telah Allah tetapkan kadarnya. Rezeki tidak terikat dengan adanya usaha manusia untuk mendapatkannya. Karena Rezeki yang diperoleh oleh manusia bukanlah hasil dari usaha yang mereka lakukan, namun karena memang rezeki tersebut telah Allah tetapkan atas manusia. Rezeki semata di tangan Allah dan hanya Allahlah yang memberi rezeki. Adapun dari sisi amal, Allah SWT mewajibkan hamba-Nya untuk berusaha dan berikhtiar melangsungkan kondisi-kondisi yang di dalamnya rezeki bisa datang. Namun, pada saat yang sama, ia harus paham bahwa usaha, ikhtiar dan kondisi itu bukan sebab bagi datangnya rezeki. Allah tidak menanyakan tentang datang dan tidaknya rezeki, tetapi Allah akan menanyakan usaha dan amal hamba untuk mencari rezeki. Karenanya, Allah menjelaskan mana yang halal dan yang tidak. Rezeki setiap hamba telah dijamin oleh Allah. Allah pun telah menetapkan kadar dan takaran bagian atau porsi rezeki tiap hamba Lihat QS. Hud [11] 2. Jodoh merupakan sebuah pilihan, bukan ketetapan dari Allah. Tidak ada satupun nash-nash di dalam al qur’an maupun di dalam hadist yang mengindikasikan bahwa Jodoh adalah sebuah takdir/ketetapan dari Allah. Adapun ketika manusia di dalam kandungan, memang ada hadist yang menerangkan bahwa Ajal dan Rezeki telah Allah tetapkan, namun tidak ada kata Jodoh pada isi hadist tersebut. عَنْ عَبْدِاللهِ قَالَحَدَثَنَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم، وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوْقِ إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا. ثُمَّ يَكُوْنُ فِي ذَلِكَ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ. ثُمَّ يَكُوْنُ فِي ذَلِكَ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ. ثُمَّ يُرْسِلُ الْمَلَكَ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ. وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكُتُبِ رِزْقِهِ، وَأَجَلِهِ، وَعَمَلِهِ، وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ. فَوَالَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ! إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ. فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ. فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ. فَيَدْخُلُهَا. وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ. حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إَلاَّ ذِرَاعٌ. فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ. فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ. فَيَدْخُلُهُا Hadist riwayat Abdullah bin Masud Radhiyallahu’anhu, ia berkata Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam sebagai orang yang jujur dan dipercaya bercerita kepada kami Sesungguhnya setiap individu kamu mengalami proses penciptaan dalam perut ibunya selama empat puluh hari sebagai nutfah. Kemudian menjadi segumpal darah selama itu juga kemudian menjadi segumpal daging selama itu pula. Selanjutnya Allah mengutus malaikat untuk meniupkan roh ke dalamnya dan diperintahkan untuk menulis empat perkara yaitu menentukan rezekinya, ajalnya, amalnya serta apakah ia sebagai orang yang sengsara ataukah orang yang bahagia. Demi Zat yang tiada Tuhan selain Dia, sesungguhnya salah seorang dari kamu telah melakukan amalan penghuni surga sampai ketika jarak antara dia dan surga tinggal hanya sehasta saja namun karena sudah didahului takdir sehingga ia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah ia ke dalam neraka. Dan sesungguhnya salah seorang di antara kamu telah melakukan perbuatan ahli neraka sampai ketika jarak antara dia dan neraka tinggal hanya sehasta saja namun karena sudah didahului takdir sehingga dia melakukan perbuatan ahli surga maka masuklah dia ke dalam surga. 3. Ajal atau Kematian merupakan suatu ketetapan yang telah Allah takdirkan kapan waktunya, tidak bisa dimundurkan dan tidak bisa dimajukan. Masalah ajal ini persis seperti masalah rezeki. Wallahu A’lam bishowab. Sumber Jodoh, maut , rezeki semua sudah di atur oleh Allah , tinggal kita yang menjalani , menerima takdir yang sudah Allah berikan , Tetap bersyukur 🤲🏻

kata kata rezeki jodoh maut sudah diatur oleh allah